Bahasa Bali dan Budaya Bali ?

3 comments
"Ngiring sareng-sareng melajah basa bali"

Jpg

Suatu ketika saya pernah berdebat dengan kakak saya yang seoarang guru fisika di sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Kintamani. Topik pembicaraan kami bukanlah tentang momentum, gaya, atau tata surya layaknya perdebatan-perdebatan yang biasa kita lakukan sebelumnya, karena memang saya menyukai topik-topik tersbut untuk di bahas denganya, yang sudah barang tentu merupakan bidang keahlianya. 

Sore itu, pembahasan kita awali dengan pembahasan tentang "teknik pengajaran dan sistem penilaian pembelajaran untuk anak SD sampai SMA" Saya bukanlah seoarang sarjana pendidikan, bukan juga seoarang yang ahli dalam dunia pendidikan, saya hanya seoarang lulusan mahasaiswa teknik, yang sekarang bekerja di dunia konsultansi. Dalam pandangan saya, pendekatan dalam sisitem kependidikan yang selama ini dilakukan kurang tepat sasaran. Kenapa? Karena terbukti dari berbagai konsflik sosial yang muncul belakangan ini. Banyaknya konflik sosial yang bermuara pada SARA. Miris sekali memang, dimana melalui sebuah ideologi pancasila kita disatukan (bhineka tunggal ika) tapi kita seoalah-olah mengingkara adanya keberagaman yang salam ini sudah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya. Apakah slama itu, kita justru mengalami kemerosotan mental, atau apakah bangsa ini tidak pernah di didik melalui sebuah proses pembelajaran. Saya mengakui bahwa masih banyak "bangsa" kita yang belum mendapatkan "gurihnya" rasa sebuah proses pendidikan, tapi malanganya konflik sosiaol ini justru lebih banyak terjadi bukan pada "bangsa" yang kekurangan akan pendidikan. Bayangkan saja, bagaimana akhir-akhir ini banyak sekali siswa dan mahasiswa yang tawuran atas nama sebuah perbedaan pendapat, akjir-akhir ini sering kita lihat betapa banyak siswa-siswa SMA di jakarata yang tawuran atas nama perbedaan sekolah. Sungguh miris, melihat bagaimana pola mental yang terbentuk pada kalangan masyarakat yang justru mengetahui dengan berbagai "rasa" pendidikan yang mereka enyam bertahun-tahun lamanya? Lalu pertanyaannya adalah? Siapa yang salah??? Pemerintahkan? masyarakatkah? atau sistemnya yang salah? 

Saya pernah membaca sebuah acara reality show di sebuah stasiun televisi suasta. Ada sebuah quote yang sangat menarik buat saya "sebuah kesuksesan/keberhasilan dimulai dari kesuksesan hal-hal kecil". Setelah dicermati saya sangat setuju dengan kata-kata mutiara ini. Kalau saya mengkaji lebih jauh, selama ini pemerintah kurang peka terhadap hal-hal kecil dalam proses pendidikan yang ternyata berdampak bersar terhadap kemerosotan moral dan mental "bangsa" ini. Hampir setiap pergantian kabinet yang berarti pergantian menteri pendidikan, kurukulum akan mengalami perubahan, seolah-olah kurikulum itu menjadi sesuatu yang dengan mudah diotak atik tanpa ada dampaknya sama sekali. Saya sendiri tidak tahu apakah posisi jabatan itu hanya sekedar untuk membuat program baru, sehingga seolah-olah ada terobosan baru yang dibuat oleh menteri yang baru. 

Tapi okelah, itu adalah sesuatu yang terlalu jauh dan tak akan bisa kita sentuh untuk dirubah dan dikaji lebih jauh. Kembali pada quote tadi, bahwa hal besar itu selalu dimulai dari hal-hal yang sederhana, tidak salah kalau dibilang sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Apa sih maksud dan keterkaitan kata-kata mutiata tersebut dalam sistem kependidikan? 

Kakak saya berkata, "terasa sangat aneh, dimana mata pelajaran bahasa inggris mendapatkan jumlah jam pelajaran lebih banyak dibandingkan dengan bahasa indonesia?". 

Saya balik bertanya "apa salahnya? Apakah ada perbedaan ketika jumlah jam pelajaran bahasa indonesia ditambah sementara jam pelajaran bahasa inggris dikurangi?" 

Kakak saya kemudian menjawab, "Tentu saja ada pengaruhnya, besar sekali malahan, coba kita lihat bagaimana kemerosotan moral bangsa kita saat ini, konsflik sosial yang bermuara pada persoalan SARA muncul dimana-mana, siswa dan mahasiswa tawuran entah untuk memperebutkan status apa?"

Lanjut dia "apakah ini bukan sebuah bukti bahwa masyarakat mulai kehilangan moral dan keberagamnya? Apalagi kalau sekarang ditambah dengan dimasukanya bahasa bali dalam muatan lokal, seolah-olah bahasa bali hanya sebuah pelengkap dalam sistem pendidikan di bali ini? Bukankah itu miris sekali? Dengan sisitem yang saat ini saja kemerosotan sudah banyak terjadi, dengan perubahan itu apalagi kemunduran yang akan dialami bangsa kita?" 

"wow..." saya sedikit tersentak mendengar pendapat yang menurut saya benar sekaligus salah. 

Kemudian saya mencoba untuk memancing lebih jauh, keterkaitan sistem ini terhadap output proses pendidikan di indonesia. 

"Apakah ada keterkaitan, mata pelajaran bahasa indonesia dengan kemerosotan moral? Sejauh ini yang saya lihat adalah bahasa indonesia mengajarkan pada kita bagaimana cara membaca, menulis, dab berkata yang benar tidak ada muatan dalam mata pelajaran itu yang mengisyaratkan bahkan secara lisan, untuk menjadi pibadi yang lebih toleran dan mencintai keberagaman, sejauh ini muatan yang ada dalam mata pelajaran bahasa indonesia tidak lebih dari itu. Jadi kalau menurut saya, sah-sah saja untuk menambah porsi jam mata pelajaran bahasa inggris dan mengurangi bahasa indonesia, karena mata pelajaran ini tidak menyebabkan kita mencintai bangsa dan negara indoneisia. kalau coba saya ambil contoh, di bali kita berkomunikasi dengan bahasa bali, di indonesia untuk menyatukan keberagaman kita berkomunikasi dengan bahasa indonesia, di dunia untuk lebih mudah memahami satu sama lain kita berkomunikasi dengan bahasa global yaitu bahasa inggris. 

Saya mencoba untuk sedikit memberikan jeda, agar kakak saya bisa sedikit lebih memahami, baru kemudian saya menlanjutkan, "Lalu dimana salah kelebihan bahasa inggris? Akan tetapi sedikit berbeda dengan bahasa bali, saya sangat tidak setuju ketika bahasa bali hanya masuk dalam muatan lokal. Masih dengan contoh yang tadi, masyarakat bali harus mengenal bahasa bali, dan persoalannya adalah muatan yang ada dalam mata pelajaran bahasa bali adalah budaya bali itu sendiri, saat ini saja siswa cenderung malas mempelajari bahasa bali, apalgi kemudian itu hanya dimasukan ke dalam muatan lokal, yang tentunya tidak ada "paksaan" kepada mereka untuk mempelajarinya, yang saya takutkan kemudia adalah hilangnya budaya yang ada di bali karena kalah tergerus oleh budaya lain yang begitu mudahnya mereka akses melaui internet yang dengan sangat mudah untuk diakses". 

Kakak saya manggut-manggut ada seberkas senyum yang tersungging di bibirnya. 

Kemudian dengan begitu cermat dia mencoba memahami dan menganalisa setiap detail dari perkataan saya. 

Dengan wajah yang sedikit ditekuk, dia berkata "ada benarnya juga yang kamu katakan. Selama ini bahasa indonesia lebih menekankan bagaimana kita membaca, menulis dan berkata tanpa ada pendidikan moral dan kecintaan terhadap tanah air. Tapi itu mungkin karena bagian itu sudah diselipkan kedalam mata pelajaran kewarganegaraan, yang kalau ditelisik lebih jauh juga tidak ubahnya seperti anak tiri yang sama sekali tidak menjadi idola. Mata pelajaran ini seoalah-olah hanya sebuah simbol yang tidak memberikan kotribusi apapun untuk membentuk mental dan karakter bangsa indonesia ini. Bahkan kalau diliat lebih jauh fakultas pendidikan kewarganegaraan (PPKN) lebih diminati oleh lulusan-lulusan SMA yang tergolong "tidak cerdas". Jadi bisa dibayangkan bagamana nasib mata pelajaran ini. 

Dia mencoba memberikan sedikit waktu kepada saya untuk mencerna dan memahami, kemudian dia melanjutkan kembali, "Dan saya sangat sependapat denganmu, bagamana sebuah mata pelajaran bahasa bali sudah memuat tidak hanya berbahasa bali tetapi juga memiliki muatan yaitu budaya bali akan hilang apabila bahasa bali hanya dimasukan ke dalam muatan lokal. Kelebihan mata pelajaran seperti fisika, matematik, dll yang dianggap sedikit bergengsi adalah siswa sedikit merasa dipaksa untuk belajar karena takut mendapatkan nilai yang buruk. Sekarang dengan masuknya bahasa bali ke dalam muatan lokal, tentu tidak ada kekhawatiran macam itu lagi yang mereka rasakan, dan inilah yang akan menjadi momok keterpurukan budaya balai nantinya" 

 Bersambung...

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

3 komentar:

  1. Mantap artikel nya pak, sayang yg dijadikan contoh adalah bahasa. Justru ada satu pelajaran yg hilang dari kurikulum pendidikan Indonesia, yakni PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Mungkin terkait Orba jadi seperti perangkat cuci otak. Padahal pelajaran PMP penting sebagai dasar sebelum mengambil PPKN.

    Terus terang saya mendapatkan PMP sewaktu SD dan itu gampang dicerna oleh anak2 SD yg dimana porsi otak mereka masih sebagian besar untuk bermain. Kemudian PPKn saya dapatkan ketika baru menginjak SMP (jadi sudah tidak ada PMP di SMP kelas 1). Dan ini jg klop, karena moral sudah terbentuk di SD selama bs dibilan 4 tahun (kelas 1 - 2 masih untuk fasih menulis).

    Sekarang mereka dari SD sudah dibebani dengan kedudukan mereka sebagai warga negara, dsb. Disini mungkin mereka kehilangan arti nilai moral tersebut. Padahal di PMP diajari bagaimana kita bergotong-royong, saling menghormati, saling menghargai dengan berbagai suku, ras, agama, dan golongan yg ada di negara ini.

    BalasHapus
  2. @ Pak Ariston Darmayuda : Saya rasa tepat sekali sebenarnya kalau PMP itu digunakan sebagai pengatar bagi anak didik sebelum memasuki gerbang pelajaran PPKN, karena dengan demikian anak didik akan punya dasar yang kuat terhadap pendidikan moral mereka. Tapi sangat disayangkan memang, pemerintah justru mengkebiri mata pelajaran ini, entah dengan maksud dan tujuan seperti apa.

    Saya sebenarnya tidak berharap kesalahan yang sama, dilakukan lagi dengan mengkebiri mata pelajarana bahasa bali, yang notabene adalah momok pelajaran budaya bali.

    BalasHapus
  3. Saya rasa tidak hanya Bahasa Bali. Dikelaurkannya TIK dari kurikulum terasa sangat aneh dan sangat tidak bijak.

    Memang jika dibandingkan dengan sistem pendidikan di luar negeri, anak2 kita terlalu dibebankan dengan begitu banyak mata pelajaran, termasuk juga waktu belajar yang jauh lebih banyak. Tetapi pemerintah harusnya lebih bijak dalam menentukan bagian mana yang seharusnya dikelaurkan dari kurikulum.

    Apakah kemudian pemerintah bisa memberikan solusi untuk mahasiswa lulusan bahasa bali dan TIK? Inilah yang tidak dipertimbangkan oleh pemerintah.

    BalasHapus