Transportasi Bali Lumpuh Tahun 2016, Benarkah?

4 comments
Salah satu headline di Radar Bali yang diterbitakan kemarin, Rabu 23 Januari 2013, "Organda Prediksi Bali Lumpuh 2016" dan "Kendaraan Tembus 1,9 Juta". Tentu miris rasanya mendengar berita ini, tapi benar faktanya kalau di Denpasar dan Badung kini sudah mulai menggeliatkan tanda-tanda kelumpuhan itu akan terjadi, yaitu kemacetan. 

Image alt



Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Darat (Organda) wilayah bali memprediksi pada tahun 2016 mendatang transportasi di Bali akan lumpuh total. Prediksi ini didasarkan pada beberapa asumsi diantaranya : 1). Pertumbuhan jalan dan kendaraan tidak sebanding; 2). Dalam kondisi normal, ada 3000 unit motor dan lebih dari 800 unit mobil yang melewati Denpasar-Badung tiap harinya; 3). Lima tahun terakhir jalan nasional hanya bertambah 26 kilometer yang ada di sepanjang Tohpati, Denpasar, hingga Kusamba, Klungkung; 4). Jumlah jalan nasional di Bali panjangnya hanya 535 kilometer, sedangkan jalan provinsi 860 kilometer; dan 5). Dari dana pembangunan jalan nasional di APBN sebesar Rp 2 Triliun per tahun, Bali hanya kecipratan Rp 143 miliar atau kurang dari 10 persen. Saya setuju sekeligus menolak asumsi yang menjadi  alasan lumpuhnya transportasi bali  tersebut. Asumsi ini terlalu lemah untuk dijadikan dasar untuk melakukan kajian terhadap kondisi transportasi di Bali. Perlu ketelitian dan beberapa variabel tambahan untuk menentukan keterkaitan atau sebuah rumusan regresi terhadap kondisi transportasi di bali. Apa yang disampaikan dalam berita ini masih terlalu prematur untuk dijadikan dasar untuk memprediksi kelumpuhan transportasi di bali. Asumsi perbandingan pertumbuhan kendaraan dan jalan misalnya. Perlu adanya variabel lain juga yang harus dijadikan pertimbangan dalam menentukan pertumbuhan kendaraan, yaitu pertumbuhan penduduk, lebih spesifik lagi adalah pertumbuhan penduduk remaja. Karena asumsinya adalah kebutuhan penduduk remaja menjadi pemakai/demand terhadap produk kendaraan yang paling dominan. Dengan demikian akan benar-benar ketemu bagaimana pola pertumbuhan kendaraan dilihat dari pola dan kebiasaaan konsumen dalam hal ini adalah penduduk bali. 

Hanya saja disini saya tidak mencoba untuk mengkritisi atau menyalahkan prediksi itu lebih jauh. Apa yang saya sampaikan tersebut hanya sebagai masukan untuk lebih mempertajam apa yang dikaji, sehingga bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap orang yang akan membacanya. Disini saya ingin lebih banyak mengkaji tentang transportasi di Bali utamanya di Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Saya mencoba untuk setuju dengan headline berita di atas, bahwa kemacetan mulai menjadi momok yang akan menggandoli masyarakat dan pemerintah bali. Kalau kita kaji lebih jauh, persoalan kemacetan bukan hal yang baru di Indonesia, Kota Jakarta yang notabene adalah Ibu Kota Negara Indonesia sudah terjerumus pada persoalan ini bertahun-tahun lamanya. Tidak salah kemudia kalau isu inipun berkembang di Bali. Berdasarkan data dari Dispenda Bali pada tahun 2007 jumlah total kendaraan mencapai 1.356.392 yang terdiri dari 1.149.777 motor dan 206.615 mobil, sedangkan pada tahun 2012 atau dalam kurun waktu lima tahun sudah mencapai 1.946.777 yang terdiri dari 1.636.457 motor dan 310.320 mobil.

Dengan data di atas, bisa dibayangkan ketika semua mobil bergerak di jalan raya, maka sudah pasti semua jalan-jalan utama (jalan nasional dan provinsi) akan penuh. Dengan demikin bukan kemacetan lagi yang akan terjadi tapi mobil yang diam seperti terpakir di tengah jalan raya. Membayangkan saja sudah miris apalagi jika ini menjadi kenyataan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang dilakukan pemerintah? Sudahkan ada terobosan dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi ini? Kenapa pemerintah? Apakah masyarakat tidak perlu dilibatkan? 

Beberapa pertanyaan di atas, muncul tanpa ada yang bisa membendung. Perosoalan kemacetan bukan lagi persoalan sederhana yang bisa diabaikan. Ini adalah persoalan publik yang semestinya menjadi prioritas pemerintah sama halnya persoalan banjir maupun persolan kesejahtraan masyarakat. Sudah barang tentu persoalan ini berdampak sangat besar sekali terutama efisiensi waktu untuk berkendaraan yang outputnya adalah produktifitas. Produktifitas apa? Tentu produktifitas semua lapisan yang melakukan aktifitas dengan menggunakan jalan raya, yang artinya hampir semua masyarakat akan menggunakannya. Kalau mau di ulas lebih detail tentu banyak sekali dampak baik ekonomi maupun sosial yang akan terjadi. Tapi pada artikel ini saya mencoba untuk tidak membahasa lebih jauh tetang itu, tetapi bagaimana pemecahan persoalan kemacetan itu sendiri.

Ketika akar permasalahanya sudah jelas, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi variabel-variabel terkait yang akan menjadi pemecah dari persoalan tersebut. Persoalan kemacetan adalah bermuara pada transportasi. Sehingga pemecahannya sangat jelas, yaitu managemen transportasi. Apa itu managemen transportasi? Menurut Copra (2010, P86) managemen transportasi terdiri dari dua bagian utama yaitu distrubusi dan transportasi. Distribusi adalah suatu upaya untuk memindahkan barang dari suplier ke konsumen, sedngkan transportasi adalah pergerakan suatu produk (orang dan barang) dari suatu lokasi ke lokasi lainnya yang merepresentasikan awal dari suatu rangkaian suplay chain dan kebutuhan konsumen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen transpotasi ini adalah suatu upaya pengelolaan terhadap kegiatan pergerakan suatu produk dari satu lokasi ke lokasi lainnya dimana pergerakan tersebut akan membentuk suatu jaringan. Dalam kasus kemacetan di bali tentu manajemen transportasi ini adalah pengaturan sistem transpotasi mulai dari moda angkutan, sistem jaringan, dan kebijakan terkait. Apakah sudah ada kebijakan dan program untuk menangani persoalan kemacetn? Sudah!!! dan banyak malahan, salah duanya yang lagi booming adalah Trans Sarbagita dan Jalan Tol di atas laut yang menghubungkan antara Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai dan Benoa.

Image alt
Moda Angkutan Trans Sarbagita
Image alt
Jalan Tol di Atas Air
    
Kedua kebijakan ini sebenarnya sangat tepat untuk mengatasi persoalan kemacetan itu. Tetapi kembali lagi pada headline berita di atas. persolannya adalah pertumbuhan kendaraan justru meningkat jauh di atas pertumbuhan jaringan jalan yang ada. Jalan tol ini adalah salah satu solusi untuk mengatasi besarnya aktifitas transportasi Ngurah Rai-Nusa Dua-Denpasar. Ngurah Rai yang merupakan pintu masuk dan keluar nasional dan internasional memang menyuguhkan sumber dari kemacetan sudah barang tentu tidak akan diam dengan perkembangan jalan tol ini. Semakin banyak jalan, semakin banyak kendaraan, yang akhirnya beberapa tahun lagi kondisi seperti sekarang akan terjadi lagi. Apakah akan membuat jalan lagi? Tentu itu tidak memecahkan masalah.

Image ALT

Untuk saat ini, pembuatan jalan tol ini akan sangat membantu memecahkan persoalan, tetapi tidak untuk beberapa tahun mendatang karena pertumbuhan kendaraan yang juga semakin banyak. Ibarat sebuah gula, jalan tol ini akan semakin menarik semut (read:kendaraan). Pertanyaannya adalah bagaimana dengan jalan yang ada di Denpasar dan Nuasa Dua? Tentu lonjakan jumlah kendaraan yang masuk ke Tol tidak akan bisa ditampung di kedua tempat tersebut. Sehingga optimalisasi angkutan umum wajib untuk dilakukan. Trans Sarbagita menjadi salah satu langkah maju yang dilakukan oleh pemerintah untuk  mencegah kemacetan ini terjadi.

Image alt

Trans Sarbagita ini adalah moda angkutan umum yang dikhususkan untuk melayani Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Badung. Sehingga optimalisasi pergerakan dari Tabanan, Gianyar dan Badung bisa dilakukan. Hal ini juga memberikan dampak terhada berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi dari masing-masing kabupaten tersebut. Apakah itu cukup? Tentu jawabnya belum. Kalau kita lihat faktanya sekarang geliat-geliat kemacetan justru terasa semakin meningkat. Ini tentu dampak dari besarnya pertumbuhan kendaraan yang lalu lalang di seputaran SARBAGITA. Optimalisasi angkutan umum perlu ditingkatkan. Bagaimana caranya?

  1. Integrasi sismtem angkutan umum. Salah satu langkah awal adalah mengintegrasikan semua jenis moda angkutan umum baik perkotaan dan pedesaan yang ada di Kawasan Sarbagita. Integrasi ini dilakukan untuk menjangkau semua jaringan yang ada di kawasan tersebut. Angkutan pedesaan dihubungkan ke angkutan perkotaan melalui suatu simpul kemudian dihubungkan lagi dengan sistem di atasnya (Trans Sarbagita, mungkin). Dengan demikian konsumen (masyarakat) mempunyai akes yang mudah untuk menuju ke lokasi-lokasi yang diinginkan. 
  2. Optimalisasi moda angkutan. Salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya jual angkutan umum adalah dengan adanya moda yang baik dan layak. Tidak hanya sekedar bisa mengantar sampai tempat tujuan tetapi juga memberikan pelayanan yang baik.
  3. Subsidi angkutan umum. Berikan pelayanan yang baik dengan moda yang baik tentu akan sangat mengundang minat masyarakat untuk lebih memakai kendaraan umum, tetapi harus lebih murah dari kendaraan pribadi. Caranya adalah perkecil subsidi untuk kendaraan pribadi (kalau bisa tidak ada subsidi) dan alokasikan dana tersebut untuk kendaraan umum. Dengan demikian ada 2 manfaat, yaitu masyarakat ditekan agar enggan menggunakan kendaraan priadi, sekaligus ditarik untuk menggunakan angkutan umum. 
  4. Alihkan jalur angkutan barang dari Gilimanuk ke Padangbai. Disadari atau tidak persoalan kemacetan di bali tidak hanya disebabkan dari pintu masuk utama bali (ngurah rai) tetapi juga pintu lainya yaitu padangbai dan gilimanuk. Saat ini jalur utama angkutan barang jalaur gilimanuk-padangbai adalah melewati Gianyar, Denpasar, dan Badung. Kedepan jalur ini bisa dialihkan melewati jalur Singaraja-Karangasem.
  5. Akses yang baik sari dan ke masing-masing kabupaten. Sebenanya saya sangat berharap ada semacam Shinkansen di bali dengan rute: 1) Melingkari pulau bali; 2) Melintang dari arah Denpasar-Singaraja melaui jalur tabanan dan bangli 3) Melintang dari arah Karangasem-Negara. Dengan aruh ini, maka banyak sekali keuntungannya, selain memecahkan persoalan kemacetan juga memecah konsentrasi aktifitas tidak lagi terpusat di Sarbagita.
  6. Peran serta masyarakat. Sosialisasi adalah hal utama yang harus dilakukan pemerintah terhadap masyarakat. Tujuanya adalah memasyarakatkan angkutan umum. Dengan dukungan masyarakat maka apa yang menjadi program di atas, dengna lebih mudah bisa di realisasikan dengan lebih optima tentunya.
Dengan optimalisasi angkutan umum diharapkan manajemen transportasi ini bisa dilakukan dengan lebih optimal. Tentunya dukungan kebijakan lain yang terkait dengan manajemen transportasi sangat diperlukan untuk semakin meningkatkan optimalisasi angkutan umum. 

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

4 komentar: