Kota Hijau, Sebuah Ruang Sosial ?

Leave a Comment

Image


Jika kita flash back satu tahun terakhir ini, bisa dibilang berbagai persoalan social muncul sebagai salah satu “trend” yang terjadi hampir di setiap wilayah di Indonesia. Bukan hanya di wilayah pinggiran, yang notabene mengalami kesulitan akses pendidikan, tetapi juga di kota-kota besar bahkan di Ibu Kota Jakarta. Tentu ini bukanlah hal yang sepele, yang hanya bisa ditonton, kemudian membuat sebuah berita berkabung. Pemerintah tidak seharusnya menutup mata untuk persoalan ini. Persoalan ini tidak lebih sederhana dibandingkan dengan banyaknya kasus criminal yang harus segera diselesaikan, tidak lebih sederhana juga dibandingkan dengan persoalan pangan bahkan persoalan hankam. Karena persoalan sosial ini telah meruntuhkan nilai-nilai persatuan dan pancasila. 

Saya tidak ingin membahas apakah yang menjadi persoalan pemerintah sehingga tidak terlihat sebuah output dari program besar yang disusun sebagai upaya untuk memperbaiki persoalam social yang selama ini membelenggu masyarakat. Buat saya  persoalan ini faktanya tetap terjadi dan bahkan seolah-olah tidak menjadi lebih baik.

Pada kesempatan ini saya ingin sekali berbagi pemikiran tentang salah satu program besar yang menjadi salah satu primadona di tahun 2012, yaitu P2KH.

Apa itu P2KH?

Image

P2KH adalah singkatan dari Program Pengembangan Kota Hijau yang dirancang untuk merealisasikan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan. Apa kaitannya P2KH ini terhadap persoalan social yang selama ini berlomba-lomba saling menunjukan geliatnya.


Tidak ada kaitan yang secara langsung antara program ini dengan persoalan social yang dihadapi masyarakat. Secara langsung program ini seharusnya berdampak pada lingkungan, kelestarian lingkungan dan pengatur siklus air. Akan tetapi disadari atau tidak ruang terbuka merupakan sarana pembentuk aktifitas social. Di beberapa daerah adanya sarana social ini memberikan ruang yang lebih pada masyarakat untuk berinteraksi terhadap sesama masyarakat lainnya dan memberikan ruang untuk berkreatifitas.


Image

Kerangka dasar pemikiran dari P2KH atau bisa kita sederhanakan menjadi program kota terdiri dari 8 unsur utama, yaitu:

Image
Secara kontekstual dan konseptual kedelapan unsur ini menjadi pengikat terbentuknya sebuah konsep pembangunan yang berkelanjutan. Tidak hanya sebuah Green Open Space yang menjadi penanda sebuah kota hijau tetapi ada unsur green community. Yang artinya tidak hanya diperlukan taman, tidak hanya diperlukan lapangan, atau area bermain dan area hijau lainnya, tetapi juga harus ada komunitas yang sehat. Sehat secara jasmani dan rohani, bukan hanya menghirup udara yang segar dan lingkungan yang bersih, tetapi juga terpenuhinya kebutuhan untuk bersosialisasi, untuk refreshing, untuk belajar dan untuk memberikan psikologis yang baik pada suatu komunitas.  

Faktanya, program yang telah dijalankan sama sekali tidak dirasakan oleh masyarakat. Tidak ada green comunity, tidak ada ada kesehatan rohani untuk komunitas. Bukan hanya dampak tidak langsung, bahkan dampak langsungpun sama sekali tidak terasa. RTH sebagai pengatur siklus air, katanya? Tapi jakarta tetap banjir. Malahan bukan hanya jakarta, kota-kota lainpun mulai merasakan dampaknya. Memberikan ruang publik untuk rekreasi, katanya? Bahkan tidak ada perubahan apapun sejauh ini yang dilakukan oleh pemerintah. Tidak ada yang namanya penambahan lapangan, atapun ruang lainya yang bisa dimanfaatkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Apalagi kalau saya mau menyebutkan ke 8 unsur dari kota hijau tersebut. Mungkin tidak ada yang akan tercapai sama sekali. 

Jika merujuk pada UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, kebutuhan ruang terbuka hijau ini adalah sebesar 30% yang dibagi menjadi RTH publik sebesar 20% dan RTH privat sebesar 10%. Artinya jika dihitung luas wilayah sebuah kota, 30% diantarnya haruslah ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau inilah yang kemudian dicari dan dipetakan menjadi sebuah green map dan green map inilah yang mereka sebuat sebagai output dari program besar itu.
Wowwwwww, big applause. Inikah yang disebut sebagai green city, green mind? Tidak perlu membuat program besar ini kalau hanya ingin membuat sebuah green map. Seorang anak TK juga bisa membuat warna hijau di pinggiran kali, warna hijau ditaman dll. Saya sering mengajarkan kepada keponakan saya untuk melakukannya.  



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

Posting Komentar