Berau, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur #2

Leave a Comment
Peta Rencana Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau
Di sebuah rumah makan di jantung kota Kabupaten Berau, kami sudah ditunggu oleh teman-teman LSM pencinta kura-kura yang sangat concern dalam hal perlindungan habitat penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Ada pertemuan yang memang sengaja kita rancang dengan WWF, LSM setempat dan juga pemerintah Kabupaten Berau untuk mengetahui secara lebih mendetail persoalan yang terjadi terkait dengan habitat penyu dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk mengatasi persolan tersebut. 

Setibanya kami di Bandara Kalimarau, tak terlihat kesan sebuah objek wisata yang menawan. Selain bandara sederhana, kami hanya disuguhi pepohonan dengan tanah agak kecoklatan. Sepertinya tanah di wilayah ini agak dangkal, karena mudah sekali bangunan-bangunan terlihat kebanjiran. Pulau Borneo memang didominasi oleh tanah gambut, dengan komposisi air yang sangat banyak. Untuk mengabadikan  momen bersama, tidak lupa kami mengabil gambar bersama di depan Bandara Kalimarau ini. Inilah orang indonesia, tidak pernah bisa lepas dari yang namanya foto, entah mereka benar-benar menyukai dan mengahragai apa yang mereka lihat dan menganggapnya istimewa atau hanya sekedar agar terlihat pernah berada di tempat ini barangkali. Apapun itu saya tetap menyukainya, karena kebersamaan ini terasa begitu lekatnya. Sang surya terlihat bergitu malu-malu untuk menunjukan kewibawaannya, seolah-olah kami adalah pangeran dan putri raja yang harus terlindung dari sengatan energi yang ia keluarkan. 

Suasana Pertemuan dan Perbincangan dengan WWF, LSM, dan Pemerintah Kota Berau
Tak berselang dua jam kami sudah sampai di lokasi pertemuan, di sebuah rumah makan sederhana di pusat kota Kabupaten Berau kami mengundang LSM, WWF, dan Pemerintah Kabupaten Berau untuk berbagi cerita dan program perlindungan habitat penyu di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Sangat luar biasa pemaparan yang disampaikan oleh WWF dan LSM pecinta penyu ini. Mereka benar-benar memahami persoalan-persolan yang selama ini terjadi terkait dengan kerusakan habitat termasuk juga perburuaan penyu di Kepulauan Derawan. Pemerintah Kabupaten Berau sepertinya tidak begitu banyak program yang mereka lakukan untuk melindungi penyu yang sering mengujungi wilayah mereka. Program sederhana mereka adalah memetakan rencana zonasi perlindungan kawasan konservasi Kepulauan Derawan. Sisanya hal persoalan mendasar terkait kerusakan habitat penyu lebih banyak dilakukan oleh LSM. Mereka memahami betul nelayan adalah salah satu objek "perusaka" habitat dan pemburu penyu itu sendiri. Sehingga langkah-langkah perlindungan dan sosialisai menjadi prioritas program kerja yang mereka lakukan. Kombinasi adantara kebijakn makro pemerintah dalam memetakan kawasan konservasi dan pendekatan kekeluargaan yang dilakukan oleh LSM tampak begitu nyata dalam memecahkan persoalan penyu di Kabupaten Derawan. Langkah antisipasi juga mereka lakukan guna memberikan peluang kerja yang berbeda dan lebih menjanjikan tentunya dimasa mendatang. Strategi semacam ini ternyata sangat signifikan dalam pemulihan habitat penyu di Kepulauan Derawan. Pulau sanggalaki adalah salah satu pulau terbaik dan paling ramai dikunjungi penyu sempat kehilangan pesonanya akibat maraknya penjualan telur penyu yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Namun seiring dengan masuknya program-program dari berbagai stakeholder ini, kini Pulau Sanggalaki kembali menjadi pulau favorite bagi penyu untuk menelurkan calon-calon petualang lautan di masa yang akan datang.

Untuk mencapai Kepulauan Derawan, perjalanan panjang harus kami lakukan untuk mencapai Pelabuhan Tanjung Batu. Ini adalah satu-satunya pelabuhan yang akan menyeberang menuju Kepulauan Derawan. Dalam bayangan kami perjalanan Kota Berau menuju Pelabuhan Tanjung Batu akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, tetapi nyatanya ini adalah sebuah perjalanan paling ekstrim yang pernah kami lalui. Sebetulnya tidak ada medan yang cukup menantang dalam perjalanan ini. Suasana disekitar jalan yang hanya ditumbuhi pepohonan bekas tambang dan cara driver kami mengemudikan kendaraanlah yang menjadikan perjalanan ini begitu ekstrim. Bayangkan saja, hampir tidak pernah kendaraan kami melaju dengan kecepatan di bawah 80 km/jam. Bahkan dengan kecepatan yang begitu tingginya si sopir bahkan tidak pernah mendengarkan keluh kesah kami yang berada di belakangnya. Hampir beberapa kali, teman saya yang berada dibagian belakang harus menghantamkan kepalanya ke langit-langit mobil avanza yang dikendarainya. Oh my GOD, mungkin seperti inilah petualangan ke ujung dunia. 

Ditengah kegalauan dan kegundahan hati dan adrenalin, kami dikagetkan dengan aroma yang begitu familiar. Sebuah aroma yang mendamaikan hati dan pikiran. Seolah-olah semua beban dan persoalan dibawa lari dari tubuh ini. Sebuah aroma laut!!! Setelah perjalan yang begitu melelahkan kami sampai pada sebuah ujung perjalan maut. Tidak terasa beberapa teman bahkan tidak mampu menahan gemuruh perut pertanda ketidak seimbangan sistem syaraf yang dikeluarkan dalam bentuk muntahan. Untuk saja saya tidak berada di bagian kursi penumpang paling belakang, mungkin saya akan mengalami hal yang sama jika berada pada posisinya. 

Sejujurnya, saya sempat kecewa ketika sampai di pelabuhan ini. Rasanya pelabuhan-pelabuhan di bali bahkan jauh lebih baik dari ini. Pelabuhan ferry di Padang Bay, bahkan masih terlihat pasir putihnya, yang menunjukan dirinya sebagai tempat wisata yang berkelas. Pelabuhan Tanjung Batu ini justru memperlihatkan kelas yang berbeda, ini lebih tampak sebagai pelabuhan nelayan dengan pantai yang berlumpur tanpa adanya hamparan pasir. Di tengah laut bahkan tampak begitu banyak rumah kapal nelayan. Sepertinya penduduk lokal disini suka hidup di laut dengan berpenghasilan dari hasil melaut. Sejenak waktu kami manfaatkan untuk melegakan tenggorokan dan pikiran dengan secangkir arabika pekat. Sedikit obrolan tercipta dengan penduduk lokal. Ternyata ada yang menarik dari penduduk yang menempati wilayah ini. Kepulauan Derawan sebagai salah satu bagian dari Kabupaten Berau ini di dominasi oleh Suka Bajau (Suku asli dari Kepulauan Philifina Selatan) dan Suku Bugis (Suku asli Sulawesi). Menariknya adalah kedua suku ini seolah-olah memiliki perannya masing-masing. Suku Bajau lebih suka hidup di laut dan Suku Bugis lebih suka hidup di darat. Artinya hampir semua masyarkat yang hidup di sini dan mengantungkan hidup dari hasil melaut adalah Suku Bajau, sedangkan masyarakat yang hidup di daratan dan hidup dari ekonomi di darat Kepulauan Derawan adalah Suku Bugis.

Suasana di dalam Perahu, Pelabuhan Tanjung Batu, Kabupaten Berau
Perjalanan darat yang begitu ekstrim sudah kami lakukan dengan selamat, akhirnya perjalan laut kami lakukan dengan penuh pesona. Matahari yang begitu malu-malu akhirnya benar-benar tidak menampakan diri. Kegagahannya tertutup oleh barisan awan yang begitu riangnya menjelajah bahkan sampai ke Pulau Derawan. Tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Derawan. Disinilah satu-satunya pulau di Kepulauan Derawan ini yang masih berpenghuni. Artinya disinilah kami akan menginap untuk malam ini, karena hanya di pulau ini, akomodasi masih tersedia. Arloji saya sudah menunjukan jam 4 sore, perjalan laut yang kami lakukan sudah memakan waktu hampir setengah jam. Sejujurnya tidak banyak hal yang bisa kami lihat karena yang tampak hanya laut dan satu pulau yang menjadi tujuan kami. Dan sampailah kami pada tujuan akhir perjalan di hari ini, Pulau Derawan. 

Salah Satu Dermaga Yang Terhubung DPenginapan, Pulau Derawan, Kabupaten Berau
   
Salah Satu Sudut Pantai di Pulau Derawan, Kabupaten Berau

Gerbang Masuk ke Pulau Derawan, Pulau Derawan, Kabupaten Berau

Salah Satu Perjuangan Untuk Mendapatkan Kamar Terbaik, Pulau Derawan, Kabupaten Berau
Sesampainya di Pualau Derawan. Hal pertama yang kami lakukan adalah foto-foto tentunya. Tidak lupa kami menyiapkan diri untuk maen pasir dan maen air. Meskipun tidak ada sunset yang bisa disaksikan, berhubung matahari sedang malu menunjukan dirinya, maka kami hanya bisa menikmati pasir, laut dan kombinasinya dengan awan yang kelabu. Meskipun sedikit menyeramkan, kami masih bisa menikmati pantai yang begitu indahnya. Salah satu pose terbaik yang sempat kami lakukaan adalah lomba menyelam ala ikan paus. 

Lomba Nyelam Gaya Ikan Paus, di Pantai Pulau Derawan, Kabupaten Berau
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

Posting Komentar